TINJAUAN TEORI
A. PENGERTIAN KONSEP SEHAT SAKIT
1. Konsep Sehat
• Neuman (1990)
Sehat adalah sebuah keadaan yang dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai perubahan yang ada dilingkungan internal dan ekternaluntuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual yang sehat.
• UU N0. 23/1992 Tentang Kesehatan
Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
• White (1977)
Sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda/gejala suatu penyakit atau kelainan.
• WHO (1974)
Sehat adalah suatu keadaan yang sempurna dari aspek fisik, mental, social, dan tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
• WHO (1957)
Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala factor keturunan dan lingkungan yang dimiliki.
• Perkins (1939)
Sehat adalah suatu keadaan berkesinambungan yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan beberapa factor yang berusaha mempengaruhinya.
2. Konsep Sakit
• Neuman (1990)
Sakit adalah sebuah proses dimana fungsi dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.
• WHO (1974)
Sakit adalah suatu keadaan yang tidak seimbang/sempurna seseorang dari aspek medis, fisik, mental, social, psikologis, dan bukan hanya mengalami kesakitan tetapi juga kecacatan.
• New Webster Dictionary (1970-an)
Sakit adalah suatu keadaan yang ditandai dengan suatu perubahan gangguan yang nyata dan normal.
• Oxford English Dictionary
Sakit sebagai suatu keadaan dari badan atau sebagian dari organ badan dimana fungsinya terganggu atau menyimpang.
• Ravelyy (1940-an)
Sakit adalah tidak adanya keselarasan antara lingkungan, agen, dan individu.
• Perkins (1937)
Sakit adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari baik aktifitas jasmani, rohani, dan social.
B. FACTOR-FACTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS KESEHATAN
1. Perkembangan
Status kesehatan dapat dipengaruhi oleh factor perkembangan yang mempunyai arti bahwa perubahan status kesehatan dapat ditentukan oleh factor usia dalam hal ini adlah pertumbuhan dan perkembangan, mengingat proses perkembangan itu dimulai dari usia bayi sampai lanjut yang memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda. Respond an pemahaman itulah yang dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang. Apabila seseorang merespon dengan baik terhadap perubahan kesehatannya, maka akan memiliki kesehatan yang baik sehingga mencapai kesehatan optimal, demikian sebaliknya.
Contoh perubahan status kesehatan yang dapat dipengaruhi oleh perkembangan adalah bayi atau anak-anak yang tahap perkembangannya belum mencapai kematangan, maka status kesehatannya sangat rentan terhadap penyakit. Bayi dan anak-anak mudah sekali terkena penyakit dibandingkan orang dewasa, demikian juga dengan usia lanjut, dimana semua daya imunitas akan menurun.
2. Sosial dan Kultural
Sosial dan cultural dapat juga mempengaruhi proses perubahan status kesehatan seseorang karena akan mempengaruhi pemikiran atau keyakinan sehingga dapat menimbulkan perubahan dalam perilaku kesehatan.
Contoh: seseorang yang memiliki lingkungan tempat tinggal yang kotor namun jarang terjadi penyakit pada lingkungan itu, demikian juga seseorang yang memiliki social ekonomi rendah akan berespon baik ketika mengalami penyakit flu dan menganggaphal tersebut tidak menjadi masalah dan sebaliknya jika penyakit flu menyerang kepada social ekonominya tinggi, penyakit tersebut dianggap sebagai masalah kesehatan yang dapat mengganggu dirinya dalam kehidupan.
3. Pengalaman Masa Lalu
Pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan. Jika ada pengalaman yang tidak diinginkan atau pengalaman kesehatan yang buruk sehingga berdampak besar dalam status kesehatan.
Contoh: seseorang yang mengalami diare yang menyebabkan dirinya masuk rumah sakit, maka dalam kehidupannya sehari-hari orang tersebut akan selalu berusaha untuk tidak mengulangi pengalaman masa lalunya dengan mencegah hal-hal yang dapat menyebabkan diare
4. Harapan Seseorang Tentang Dirinya
Harapan merupakan salah satu bagian yang penting dalam meningkatkan perubahan status kesehatan kea rah yang optimal. Harapan dapat menghasilkan status kesehatan ke tingkat lebih baik secara fisik maupun psikologis, karena melalui harapan akan timbul motivasi bergaya hidup sehat dan selalu menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi status kesehatan dirinya.
5. Keturunan
Keturunan juga dapat memberikan pengaruh terhadap status kesehatan seseorang mengingat potensi perubahan status kesehatan telah dimiliki melalui factor genetic, walaupun tidak terlalu besar tetapi akan mempengaruhi respon terhadap berbagai penyakit.
6. Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik seperti sanitasi lingkungan, kebersihan diri, tempat pembuangan air limbah atau kotoran serta rumah yang kurang memenuhi persyaratan kesehatan sehingga dapat mempengaruhi perilaku hidup sehat yang dapat merubah status kesehatan.
7. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan dapat berupa tempat pelayanan atau system pelayanan dapat mempengaruhi status kesehatan. Hal ini dapat dijumpai apabila tempat pelayanan kesehatan terlalu jauh atau kualitas dalam memberikan pelayanan kurang baik, maka dapat mempengaruhi seseorang dalam berprilaku hidup sehat
C. TAHAPAN PROSES SAKIT
1. Tahap Gejala
Tahap ini merupakan tahapan awal seseorang mengalami proses sakit dengan ditandai adanya perasaan tidak nyaman terhadap dirinya karena timbulnya suatu gejala yang dapat meliputi gejala fisik seperti adanya perasaan nyeri, panas dan lain-lain sebagai manifestasi terjadinya ketidakseimbangan dalam tubuh. Setiap gejala timbul sebagai manifestasi fisik
2. Tahap Asumsi Terhadap Sakit
Pada tahap ini seseorang akan melakukan interpretasi terhadap sakit yang dialaminya dan akan merasakan keragu-raguan pada kelainan atau gangguan yang dirasakan pada tubuhnya. Setelah menginterpretasi gejala itu, maka seorang akan merespon dalam bentuk emosi terhadap gejala tersebut seperti merasakan ketakutan atau kecemasan. Untuk mengatasi ketakutan atau kecemasan tersebut, kemudian dilakukan proses konsultasi dengan sekitar atau orang yang dianggap lebih mengetahui atau datang ke tempat pengobatan. Tahap ini dapat berakhir dengan ditemukan gejala yang pasti dan terjadi perubahan dari sakitnya. Proses ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya pengetahuan atau pengalaman masa lalu.
3. Tahap Kontak dengan Pelayanan Kesehatan
Tahapan ini seseorang telah mengadakan hubungan dengan pelayanan kesehatan dengan meminta nasehat dari profesi kesehatan seperti dokter, perawat, atau lainnya yang dilakukan atas inisiatif dirinya sendiri. Proses pencarian ini dilakukan untuk mengetahui gejala-gejala yang tidak dimengerti oleh klien dan adanya keyakinan bahwa dirinya akan lebih baik. Jika setelah konsultasi tidak ditemukan lagi gejala yang ada, maka klien menganggap dirinya telah sembuh. Namun apabila gejala tersebut muncul kembali, maka dirinya akan datang ke pelayanan kesehatan.
4. Tahap Ketergantungan
Tahapan ini terjadi setelah seseorang dianggap mengalami suatu penyakit yang tentunya akan mendapatkan bantuan pengobatan sehingga kondisi seseorang sudah mulai ketergantungan dalam pengobatan akan tetapi tidak semua orang mempunyai tingkat ketergantungan yang sama melainkan berbeda berdasarkan tingkat kebutuhannya. Kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh tingkat penyakitnya. Thapan ini dapat dilakukan dengan pengkajian kebutuhan terhadap ketergantungan dan dapat diberi support agar seseorang mengalami kemandirian.
5. Tahap Penyembuhan
Tahap ini merupakan tahapan terakhir menuju proses kembalinya kemampuan untuk beradaptasi, dimana seseorang akan melakukan proses belajar untuk melepaskan perannya selama sakit dan kembali berperan seperti sebelum sakit serta adanya persiapan untuk berfungsi dalam kehidupan social. Peran tenaga kesehatan disini dengan membantu klien untuk meningkatkan kemandirian serta memberikan harapan dan kehidupan menuju kesejahteraan.
D. PERILAKU SAKIT
.1. Adanya Perasaan Ketakutan
Perubahan perilaku ini dapat terjadi pada semua orang dengan ditandai adanya perasaan takut sebagai dampak dari sakit. Apabila sikap penerimaan terhadap sakitnya serta dampak yang ditimbulkan belum dapat diterima secara penuh pada seseorang yang mengalami sakit, maka orang tersebut akan terhantui perasaan ketakutan dan hal ini apabila dibiarkan akan mengganggu status mental seseorang.
2. Menarik Diri
Pada orang yang sakit akan selalu mengalami proses kecemasan. Tingkat kecemasan yang dialami seseorang pun berbeda. Untuk mengurangi kecemasan, maka seseorang akan berprilaku menarik diri seperti diam jika tidak diberi pertanyaan. Hal tersebut sebagai bentuk upaya menghindari kecemasan.
3. Egosentris
Perilaku ini dapat terjadi pada orang sakit yang ditunjukkan dengan selalu banyak mempersoalkan dirinya sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain atau memikirkan orang lain. Perilaku ini juga ditunjukkan dengan selalu ingin bercerita tentang penyakitnya.
4. Sensitif Terhadap Persoalan Kecil
Pada orang sakit perubahan perilaku ini biasanya selalu ditimbulkan dengan selalu mempersoalkan hal-hal yang kecil sebagai dampak terganggunya psikologis seperti selalu mengomel jika keadaan tersebut tidak sesuai dengan dirinya.
5. Reaksi Emosional Tinggi
Perilaku ini dapat ditunjukkan dari seseorang yang mengalami sakit dengan mudah menangis, tersinggung, marah serta tuntutan perhatian yang lebid dari orang sekitar.
6. Perubahan Persepsi
Terjadinya perubahan persepsi selama sakit ini dapat ditunjukkan dengan persepsi bahwa dokter dan perawat adalah orang yang dapat membantu untuk menyembuhkannya sehingga menaruh harapan sangat besar pada dokter dan perawat tersebut.
7. Berkurangnya Minat
Perubahan perilaku yang ditunjukkan pada seseorang yang mengalami sakit ini adalah berkurangnya minat karena terjadi stress yang diakibatkan penyakit yang dirasakan serta menurunnya kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
E. CARA PENCEGAHAN TERHADAP SAKIT
1. Pencegahan primer dilakukan pada masa individu belum menderita sakit, upaya yang dilakukan ialah:
a. Promosi kesehatan/health promotion yang ditujukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah kesehatan.
Promosi kesehatan dilakukan melalui intervensi pada host/tubuh orang misalnya makan makanan bergizi seimbang, berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk mencegah terjadinya penyakit misalnya menghilangkan tempat berkembang biaknya kuman penyakit, mengurangi dan mencegah polusi udara, menghilangkan tempat berkembang biaknya vektor penyakit misalnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes, atau terhadap agent penyakit seperti misalnya dengan memberikan antibiotika untuk membunuh kuman.
b. Perlindungan khusus (specific protection): upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain.
Perlindungan khusus dilakukan melalui tindakan tertentu misalnya imunisasi atau proteksi pada bahan industri berbahaya dan bising . Melakukan kegiatan kumur-kumur dengan larutan flour untuk mencegah terjadinya karies pada gigi. Sedangkan terhadap kuman penyakit misalnya mencuci tangan dengan larutan antiseptik sebelum operasi untuk mencegah infeksi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan untuk mencegah diare.
2. Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu mulai sakit,upaya yang di lakukan ialah :
a. Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), tujuan utama dari tindakan ini ialah 1) mencegah penyebaran penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular, dan 2) untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat.
b. Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi
3. Pencegahan tersier dilakukan pada fase lanjut fatogenik, upaya yang di lakukan ialah :
a. Rehabilitasi pada proses ini diusahakan agar cacat yang di derita tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik, mental dan social
No comments:
Post a Comment