Sunday, May 25, 2014

SATUAN ACARA PENYULUHAN


SATUAN ACARA PENYULUHAN ( S A P )

A.    Topik
Pokok Bahasan    : Kekambuhan
Sub Pokok Bahasan    : Peran keluarga dalam penanganan kekambuhan     pada pasien gangguan jiwa.
Sasaran    : Pasien dan Keluarga Pasien
Hari / Tanggal    : Senin, 5 September 2005
Waktu    : Pukul 08.00 WIB
Tempat    : Ruang tunggu poliklinik RS.Grhasia DIY

B. Tujuan
    1. Tujuan Umum
Memberikan pendidikan tentang peran keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
    2. Tujuan Khusus
Memberikan pendidikan kesehatan tentang :
a. Pengertian Kekambuhan
        b.     Tanda dan gejala kekambuhan klien gangguan jiwa
        c.     Faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan klien
    d.    Peran klien dan keluarga dalam pencegahan kekambuhan.

C.    Latar Belakang
Keperawatan jiwa merupakan bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu keperawatan jiwa bentuk pelayanan Bio-Psiko-Sosio-Spritual yang komperhensif. Klien dapat berupa individu, keluarga dan komunitas baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Bentuk Asuhan keperawatan jiwa meluputi pencegahan primer adalah pendidikan kesehatan, pengubahan lingkungan dan dukungan sistem sosial.
Keluarga sebagai orang terdekat dengan klien merupakan sistem pendukung utama dalam memberikan pelayanan langsung pada saat klien berada dirumah. Oleh karena itu keluarga memiliki peran penting didalam upaya pencegahan kekambuhan penyakit pada klien jiwa. Melihat fenomena diatas, maka keluarga perlu mempunyai pemahaman mengenai cara perawatan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah perawat dapat melaksanakan penyuluhan guna memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga.

D.    Seleksi pasien dan keluarga

C. Jadwal Kegiatan :   
        a. Hari / Tgl    : Senin, 5 September 2005
        b. Waktu        : 20 Menit
        c. Sasaran    : Pasien dan Keluarga
        d. Tempat        : Poliklinik Psykiatri RS.Grhasia
e.   Pembagian Tugas
a. Presentator    : Febriani Emida
b. Moderator    : Jems Kifen Roget  Maay
c. Observer    : Ni Komang Ari Sawitri
e. Notulen    : Nurul Kodriati
f. Fasilitator    : Puji Lestari
    f. Metode        : Ceramah, Diskusi
    g. Media        : Lieflet, Flipcard
    h. Materi        :
        a.     Pengertian Kekambuhan
        b.         Tanda dan gejala kekambuhan klien gangguan jiwa
        c.     Faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan klien
    d. Peran klien dan keluarga dalam pencegahan kekambuhan.
i.  Seting Tempat
    Peserta duduk dikursi, anggota kelompok duduk berbaur dengan pasien dan keluarga pasien, penyaji didepan.

    j. Rencana Kegiatan
Kegiatan    Waktu     Respon Keluarga
1. PEMBUKAAN
       Memberi salam
       Memperkenalkan diri
       Menjelaskan Tujuan
       Memberikan kesempatan untuk bertanya   
5 Menit   
Menjawab salam
Mendengarkan
Mendengarkan
Bertanya
2. KEGIATAN INTI
       Melakukan apersepsi
       Menjelaskan pengertian dari  kekambuhan
       Menjelaskan tanda dan gejala kekambuhan klien gangguan jiwa
       Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan klien
       Menjelaskan peran klien dan keluarga dalam pencegahan kekambuhan
       Memberikan kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya   
10 menit   
Menjawab
Mendengarkan

Mendengarkan

Mendengarkan

Mendengarkan


Bertanya

3. PENUTUP
       Melakukan evaluasi
       Memberikan reinforcement
       Menimpulkan kegiatan

       Salam penutup   
5 Menit   
Menjawab
Mendengarkan
Menyimpulkan bersama.
Menjawab salam



j.  Evaluasi
         Pertantaan :
o   Apa yang dimaksud dengan kekambuhan ?
o   Bagaimana Tanda/Gejala dari kekambuhan ?
o   Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kekambuhan
o   Apa yang dapat dilakukan keluarga untuk mencegah kekambuhan ?


PERAN KELUARGA DALAM PENANGANAN KEKAMBUHAN
PASIEN GANGGUAN JIWA

A.           Kekambuhan
Kekambuhan adalah kembalinya suatu penyakit setelah tampaknya mereda (Dorland, 2002).
Kekambuhan yaitu kembalinya gejala – gejala penyakit sehingga cukup parah dan mengganggu aktivitas sehari – hari dan memerlukan rawat inap dan rawat jalan yang tidak terjadwal (Boyd dan Nihart, 1998)

B.           Tanda – tanda kekambuhan
Tahap I :
penderita memperlihatkan ketegangan yang berlebihan (overextension), sering mengeluh cemas terus – menerus, tak dapat konsentrasi, lupa kat – kata dalam pertengahan kalimat, adanya hambatan mental dalam aktivitas dan penampilan diri yang menurun.
Tahap II  :
memperlihatkan keterbatasan tingkat kesadaran (retriction conciusness), depresi, mudah bosan, apatis, obsesional dan fobia, mengeluh sakit di seluruh tubuh (somatisasi), menarik diri dari aktivitas sehari – hari dan membatasi stimulus eksternal.
Tahap III :
kadang – kadang menunjukan penampilan psikotik, hipomania, gangguan persepsi, gangguan isi pikir dan gagal memakai mekanisme pembelaan yang matang
Tahap IV :
 memperlihatkan gejala psikotik yang jelas, adanya halusinasi dan waham secara terus menerus
Tahap V :
penderita tidak lagi mengenal keluarga dan menganggap keluarga sebagai penipu. Dapat pula penderita mengamuk.
Tahap VI :
penderita nampak seperti robot dn bingung serta gelisah.

Jika muncul tanda – tanda di atas segera :
•  bantu klien untuk mengungkapkan apa yang dirasakan
•  segera kontrol ke RS, sehingga segera mendapat pertolongan.

C.           Penyebab kekambuhan
Faktor – faktor yang menyebabkan kekambuhan :
1.       Tidak teratur minum obat, pemakaian obar neuroleptik yang lama dapat menyebabkan efek samping “tardive dyskinesia” (gerakan tidak terkontrol)
2.       lingkungan dengan stressor tinggi
3.   Keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi
4.   Kurangnya aktivitas dan latihan serta suplai nutrisi.

D.           Perawatan penderita di rumah
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh keluarga dan lingkungan dalam merawat pasien di rumah antaralain :
1.             Memberikan kegiatan/ kesibukan dengan membuatkan jadwal sehari – hari
2.             selalu menemani dan tidak membiarkan penderita sendiri dalam melakukan suatu kegiatan, misalnya : makan bersama, bekerja bersama, bepergian dll.
3.             meminta keluarga atau teman untuk menyapa klien, jik klien mulai menyendiri atau berbicara sendiri
4.             mengajak ikut aktif dan berperan serta dalam kegiatan masyarakat, misalnya : pengajian, kerja bakti dll
5.             berikan pujian, umpan balik  atau dukungan untuk ketrampilan sosial yang dapat dilakukan pasien
6.             mengontrolkepatuhan minum obat secara benar sesuai dengan resep dokter
7.             jika klien malas minum obat, anjurkan untuk minum obat secara halus dan emapti. Hindari tindakan paksa yang menimbulkan trauma bagi pasien.
8.             kontrol suasana lingkungan / pembicaraan yang dapat memancing terjadinya marah
9.             mengenali tanda – tanda yang muncul sebagai gejala kekambuhan
10.         segera kontrol ke dokter/RS jika muncul perubahan perilaku yang menyimpang atau obat habis

No comments:

Post a Comment