STASE KEPERAWATAN JIWA
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG CARA MERAWAT PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN DI RUANG KRISNA P10 Prof. dr SOEROJO MAGELANG
Disusun Oleh :
1. I Wayan Swintha (13160015)
2. Maria Martina D. (131600 )
3. Desak Made S. (131600 )
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI
YOGYAKARTA
2014
SAP PENDIDIKAN KESEHATAN
A. Topik : Merawat Pasien dengan Resiko Perilaku Kekerasan Di Ruang Krisna (P10) Prof. dr soerojo magelang
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum keluarga mengetahui cara merawat pasien dengan resiko perilaku kekerasan
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penyuluhan adalah :
a. Keluarga mengetahui pengertian dari perilaku kekerasan
b. Keluarga dapat mengidentifikasi perilaku kemarahan pasien
c. Keluarga dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
d. Keluarga dapat mengidentifikasi penatalaksanaan pada perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
e. Keluarga menyebutkan cara Perawatan Pasien dengan Resiko Perilaku Kekerasan
f. Keluarga mengetahui Strategi yang dapat dilakukan keluarga untuk mencegah kekembuhan
C. LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa merupakan permasalah yang bersifat multiaksial dan respon yang muncul terhadap pasien juga bervariasi, hal ini membutuhkan penanganan yang menyeluruh dan pendekatan yang bersifat holistic, termasuk pedekatan yang bersifat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan gangguan jiwa, baik secara individu, kelompok, keluarga maupun komunitas (Purba, dkk. 2008).
Manurut Sunden (1998) dalam Hawari (2011) mangatakan manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara somato-psiko-sosial yang artinya bahwa pada gangguan jiwa yang menonjol adalah gejala-gejala yang patologik dari unsur psikis yang dapat mempengaruhi perilaku manusia seperti dari keturunan, usia dan Jenis Kelamin, keadaan fisik, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar manusia sehingga bila psikis mangalami gangguan maka dapat menyebabkan terjadi kemarahan.
Menurut Maramis (2008), kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi.
Ancaman atau kebutuhan yang tidak terpenuhi mengakibatkan seseorang stress berat membuat orang marah bahkan kehilangan kontrol kesadaran diri, misalnya: memaki-maki orang di sekitarnya, membanting–banting barang, menciderai diri sendiri dan orang lain, bahkan membakar rumah, hal ini bisa digolongkan kedalam perilaku kekerasan (Anthony, 2008).
Dimana Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis, Pasien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain, lingkungan dan keluarga (Kaliat, 2008)
Menurut Whall (1999) dalam Friedman (2010), mengidentifikasi keluarga sebagai kelompok yang mengidentifikasi diri dengan anggotanya terdiri dari dua individu atau lebih, yang memiliki ikatan darah serta saling mendukung dan membingbing satu sama lain.
Menurut Khan (1995) dalam Soewadi (2008) menyebutkan bahwa pentingnya peran keluarga dalam memberi dukungan dan perawatan pada pasien dengan gangguan jiwa terutama pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan, dapat mencegah terjadinya kekambuhan pada pasien yang salah satu caranya dengan memperhatikan tingkah laku dan kesehatan pasien.
Berdasarkan dari hasil wawancara dan studi dokumentasi didapatkan bahwa pada tahun 2013 sekitar 58% keluarga yang mengunjungi keluarganya yang di rawat di RSJ magelang, dan sekitar 29% keluarga yang berkunjung adalah keluarga pasien yang mengalami gangguan dengan diagnosa resiko perilaku kekerasan dan pada minggu ini ada sekitar 16, 6 % keluarga yang berkunjung ke ruangan Krisna (P10) dari 12 pasien yang mengalami gangguan dengan diagnosa resiko perilaku kekerasan. Berdasarkan uraian di atas maka kelompok tertarik memberikan pendidikan kesehatan tentang cara merawat pasien dengan perilaku kekerasan pada keluarga yang mengunjungi pasien dengan gangguan resiko perilaku kekerasan.
D. SELEKSI PASIEN DAN KELUARGA
Peserta pendidikan kesehatan adalah keluarga yang mengunjungi pasien dengan gangguan resiko perilaku kekerasan di ruang Krisna (P10) Prof. dr Soerojo Magelang
E. JADWAL KEGIATAN
Tempat pelaksanaan penyuluhan : Ruang Krisna (P10) Prof. dr Soerojo Magelang
Lama Pelaksanaan penyuluhan : 30 Menit
Tanggal Pelaksanaan penyuluhan : 12 Mei 2014
Waktu Pelaksanaan penyuluhan : 09.00.– 09.30 WIB
F. METODE PELAKSANAAN
1. Ceramah
2. Tanda Jawab
G. MEDIA DAN ALAT
1. Leaflet
H. PENGORGANISASIAN
1. Penyuluhan : I Wayan Swintha
Tugas :
1. Memimpin acara
2. Memberikan Penkes
3. Melakukan evaluasi kegiatan
4. Menyimpulkan kegiatan
2. Fasilitator : Desak Made Sumardiningsih
Tugas :
1. Menyiapkan tempat penyluhan
2. Mengarahkan keluarga
3. Observer : Maria Martina Dolorosa
Tugas :
1. Mengamati jalannya acara
2. Melaporkan hasil pengamatannya pada Leader
I. SETTING TEMPAT
Di Ruang Krisna (P10) Prof. dr Soerojo Magelang
: Penyuluhan
: co leader
: observer
: fasilitator
: pasien
J. PROGRAM ANTISIPASI KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN
1. Waktu : Apabila waktu dimulainya pendidikan kesehatan mundur maka TIM pemberi penkes minta maaf dan menjelaskan penyebab kemunduran waktu.
2. Tempat : Apabila tempat pendidikan kesehatan tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan maka TIM pemberi penkes mencari tempat lain yang akan digunakan .
3. Keluarga dan pasien terapis: Saat pasien dan keluarga dipanggil untuk diperiksa pendidikan kesehatan tetap dilanjutkan
4. Media/alat : Apabila media yang disiapkan untuk penkes seperti leaflet tidak mencukupi untuk semua peserta pendidikan kesehatan maka TIM pemberi penkes meminta maaf kepada peserta yang tidak mendapatkan leaflet
K. LANGKAH KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN
1. Tahap Persiapan
a) Menyiapkan Satuan Acara Penyuluhan sesuai topik
b) Mengumpulkan materi sesuai topik
c) Mempersiapkan tempat untuk kegiatan
d) Mempersiapkan bahan dan alat.
e) Membuat kontrak dengan pasien yang sesuai indikasi.
f) Menyiapkan setting tempat penyuluhan
g) Penyaji menyiapkan diri
2. Tahap Orientasi
a) Salam teraupetik
1) Perawat memberikan salam kepada keluarga dan pasien
2) Perawat meminta pasien memperkenalkan diri, menyebutkan nama, menjelaskan tujuan.
b) Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan keluarga dan pasien saat ini
2) Menanyakan apakah keluarga sudah mengetahui cara-cara merawat pasien dengan perilaku kekerasan.
c) Menjelaskan aturan Penkes
1) Konsentrasi
2) Aktif
3) Bila akan mengemukan perasaannya keluarga dan pasien diminta untuk minta ijin pada perawat
d) Kontrak Waktu
1) Waktu kegiatan selama 30 menit
2) Lama kegiatan
3) Tempat kegiatan
3. Tahap kerja
a) Keluarga dan pasien yang akan mengikuti kegiatan Penkes dikumpulkan Di Ruang Krisna (P10) Prof. dr Soerojo Magelang
b) Penyuluhan menjelaskan Penkes merawat pasien dengan resiko perilaku kekerasan
c) Waktunya atau Lama Pendidikan Kesehatan dilaksanakan selama 30 menit terdiri dari tiga sesi, yaitu penyampaian materi, tanya jawab dan evaluasi.
d) Penyuluhan memulai penkes
e) Leader menanyakan kepada keluarga tentang pengertian, tanda-gejala, perawatan pasien dengan resiko perilaku kekkerasan. Beri pujian pada pasien dan keluarga yang mampu menjawab dengan tepat
f) Perawat memberikan pujian saat keluarga telah menyebutkan dengan benar
g) Fasilitator mengarahkan keluarga apabila dianggap belum mengerti tentang perawatan pasien dengan resiko prilaku kekerasan
h) Selama kegiatan observer mengamati jalanya acara
4. Terminasi
1) Evaluasi
a) Evaluasi subyektif
Menanyakan perasaan keluarga dan pasien setelah mengikuti penkes perawatan pasien dengan resiko perilaku kekerasan dan memberikan pujian pada pasien dan keluarga atas keberhasilan
b) Evaluasi obyektif
Menanyakan kembali hal-hal dan kegiatan yang sudah dilakukan dalam penkes mengenai perawatan pasien dengan resiko perilaku kekerasan dan memberikan pujian pada pasien dan keluarga atas keberhasilan dalam penkes
2) Rencana Tindak Lanjut
Perawat meminta pasien dan keluarga menjelaskan kembali cara merawat pasien dengan resiko perilakun kekerasan
Kontrak yang akan datang
a) Menyepakati topik yang akan datang
b) Menyepakati mengenai waktu dan tempat
c) Menganjurkan pasien untuk rutin dalam kontrol kesehetan serta mematuhi waktu minum obat. Kepada keluarga pasien, penyuluh memotivasi untuk mendampingi pasien saat terdapat tanda-tanda resiko perilaku kekerasan
L. Evaluasi
Evaluasi struktur
a. Menyiapkan planning
b. Kontrak waktu dengan pasien dan keluarga
c. Menyiapkan alat dan tempat
Evaluasi proses
a. Penyuluhan menjelaskan aturan penkes dengan jelas
b. Fasilitator menempatkan diri ditengan-tengah pasien
c. observer menempatkan diri di tempat yang memungkinkan unruk dapat mengawasi jalannya penkes
d. Pasien yang mengikuti penkes dapat mengikuti kegiatan dari akhir sampai selesai.
Evaluasi hasil
a. 100% dari jumlah pasien mengikuti kegiatan penkes
b. 100% dari jumlah pasien mampu menebak dan memberikan penjelasan terhadap merawat pasien dengan resiko perilaku kekerasan yang diberikan
c. 100% dari jumlah pasien mampu mengikuti penkes yang telah ditentukan
d. 100% dari jumlah pasien mau mengemukakan pendapat tentang perawatan pasien dengan perilaku kekerasan
DAFTAR PUSTAKA
Anthony R. (2008).Management Control System, Edisi 11. Jakarta: Salemba Medika
Freidman, M. M. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.
Hawari, D. (2011). Menejemen Stres Cemas Dan Depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indinesia.
Keliat, B.A. (2008). Asuhan Pasien Gangguan Perilaku Kekerasan.Jakarta : FKUI
Maramis, W.F.(2008). Proses keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Purba, dkk. (2008). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Masalah Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan: USU Press
Soewadi. (2008). Simtomatologi dalam Psikiatri. Yogyakarta : UGM Press.
LAMPIRAN MATERI
MERAWAT PASIEN DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN
A. Definisi
Menurut Kaliat (2008), berpendapat perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol.
Suatu keadaan ketika individu mengalami perilaku yang secara fisik dapat membahayakan bagi diri sendiri ataupun orang lain (Videbeck. 2008)
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik dan psikologis baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan (Stuart.2005)
Jadi dapat di simpulkan bahwa perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana dimana seseorang dapat membahayakan secara fisik dan psikologis baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan, yang sering disebut gaduh atau amuk dimana seseorang berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol.
B. Jenis –Jenis
1. Asertif
Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain, dan tidak menimbulkan masalah
2. Frustasi
Kegagaan mencapai tujaun karena tidak realitas atau terhambat dan individu tidak menemukan alternative lain
3. Pasif
Respon anjut dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan
4. Agresif
Perilaku destruktif tetapi masih terkontrol
5. Kekerasan
Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan control diri individu merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan atau dapat juga disebut perilaku destruktif tidak terkontrol
C. Tanda dan Gejala
1. Fisik : mata melotot/pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku.
2. Verbal : mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan nada keras, kasar dan ketus.
3. Perilaku : menyerang orang lain, melukai diri sendiri/orang lain, merusak lingkungan, amuk/agresif.
4. Emosi : tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam, jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.
5. Intelektual : mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme.
6. Spiritual : merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak bermoral dan kreativitas terhambat.
7. Sosial : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan sindirin.
8. Perhatian : bolos, melarikan diri dan melakukan penyimpangan seksual.
Data Obyektif:
1. Muka merah
2. Pandangan tajam
3. Otot tegang
4. Nada suara tinggi
5. Berdebat
6. Sering pula tampak pasien memaksakan kehendak
7. Merampas makanan, memukul jika tidak senang
Data Subyektif:
1. Mengeluh perasaan terancam
2. Mengungkapkan perasaan tidak berguna
3. Mengungkapkan perasaan jengkel
4. Mengungkapkan adanya keluhan fisik, berdebar-debar, merasa tercekik, dada sesak, bingung.
D. Penatalaksanan
1. Somatoterapi
a. Medikasi psikotropik
1) Obat anti psikosis, phenotizin (CPZ/HLP)
2) Obat anti depresi, amitriptyline
3) Obat anti ansietas, diazepam, bromozepam, clobozam
4) Obat anti insomnia, phneobarbital
b. Terapi Elektrokonvulsi (ECT)
Terapi ini dilakukan dengan cara mengalirkan listrik sinusoid ke tubuh penderita menerima aliran listrik yang terputus-putus.
c. Somatoterapi yang lain
1) Terapi konvulsi kardiasol, dengan menyuntikkan larutan kardiazol 10% sehingga timbul konvulsi
2) Terapi koma insulin, dengan menyuntikkan insulin sehingga pasien menjadi koma, kemusian dibiarkan 1-2 jam, kemudian dibangunkan dengan suntikan gluk
2. Psikoterapi
Psikoterapi adalah salah satu pengobatan atau penyembuhan terhadap suatu gangguan atau penyakit, yang pada umumnya dilakukan melalui wawancara terapi atau melalui metode-metode tertentu misalnya : relaksasi, bermain dan sebagainya.
3. Manipulasi lingkungan
Manipulasi lingkungan adalah upaya untuk mempengaruhi lingkungan pasien, sehingga bisa membantu dalam proses penyembuhannya.
E. Perawatan Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan
1. Berikan dukungan saat pasien menghadapi masalah
2. Bantu pasien mengungkapkan perasaan nya
3. Awasi perubahan perilaku pasien
4. Ajarkan teknik relaksasi, misalnya tarik napas dalam jika rasa marah muncul
5. Mengalihkan lingkungan ke tempat yang lebih kondusif
6. Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung. Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.
7. Membantu dengan obat-obat sesuai anjuran dokter
F. Strategi yang dapat dilakukan keluarga untuk mencegah kekembuhan
1. Mengenali tanda kambuh
2. Menjalani pengobatan yang sesuai
3. Menghindari situasi yang mungkin memicu timbulnya gejala perilaku kekerasan, seperti flem atau tayangan televisi, atau suasana gaduh di rumah
4. Mempelajari tentang keadaan sakit yang diderita oleh anggota keluarga
5. Melaksanakan latihan teknik managemen stres seperti meditasi dan tarik napas dalam
6. Melaksanakan aktivitas secara teratur
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG CARA MERAWAT PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN DI RUANG KRISNA P10 Prof. dr SOEROJO MAGELANG
Disusun Oleh :
1. I Wayan Swintha (13160015)
2. Maria Martina D. (131600 )
3. Desak Made S. (131600 )
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI
YOGYAKARTA
2014
SAP PENDIDIKAN KESEHATAN
A. Topik : Merawat Pasien dengan Resiko Perilaku Kekerasan Di Ruang Krisna (P10) Prof. dr soerojo magelang
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum keluarga mengetahui cara merawat pasien dengan resiko perilaku kekerasan
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penyuluhan adalah :
a. Keluarga mengetahui pengertian dari perilaku kekerasan
b. Keluarga dapat mengidentifikasi perilaku kemarahan pasien
c. Keluarga dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
d. Keluarga dapat mengidentifikasi penatalaksanaan pada perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
e. Keluarga menyebutkan cara Perawatan Pasien dengan Resiko Perilaku Kekerasan
f. Keluarga mengetahui Strategi yang dapat dilakukan keluarga untuk mencegah kekembuhan
C. LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa merupakan permasalah yang bersifat multiaksial dan respon yang muncul terhadap pasien juga bervariasi, hal ini membutuhkan penanganan yang menyeluruh dan pendekatan yang bersifat holistic, termasuk pedekatan yang bersifat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan gangguan jiwa, baik secara individu, kelompok, keluarga maupun komunitas (Purba, dkk. 2008).
Manurut Sunden (1998) dalam Hawari (2011) mangatakan manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara somato-psiko-sosial yang artinya bahwa pada gangguan jiwa yang menonjol adalah gejala-gejala yang patologik dari unsur psikis yang dapat mempengaruhi perilaku manusia seperti dari keturunan, usia dan Jenis Kelamin, keadaan fisik, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar manusia sehingga bila psikis mangalami gangguan maka dapat menyebabkan terjadi kemarahan.
Menurut Maramis (2008), kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi.
Ancaman atau kebutuhan yang tidak terpenuhi mengakibatkan seseorang stress berat membuat orang marah bahkan kehilangan kontrol kesadaran diri, misalnya: memaki-maki orang di sekitarnya, membanting–banting barang, menciderai diri sendiri dan orang lain, bahkan membakar rumah, hal ini bisa digolongkan kedalam perilaku kekerasan (Anthony, 2008).
Dimana Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis, Pasien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain, lingkungan dan keluarga (Kaliat, 2008)
Menurut Whall (1999) dalam Friedman (2010), mengidentifikasi keluarga sebagai kelompok yang mengidentifikasi diri dengan anggotanya terdiri dari dua individu atau lebih, yang memiliki ikatan darah serta saling mendukung dan membingbing satu sama lain.
Menurut Khan (1995) dalam Soewadi (2008) menyebutkan bahwa pentingnya peran keluarga dalam memberi dukungan dan perawatan pada pasien dengan gangguan jiwa terutama pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan, dapat mencegah terjadinya kekambuhan pada pasien yang salah satu caranya dengan memperhatikan tingkah laku dan kesehatan pasien.
Berdasarkan dari hasil wawancara dan studi dokumentasi didapatkan bahwa pada tahun 2013 sekitar 58% keluarga yang mengunjungi keluarganya yang di rawat di RSJ magelang, dan sekitar 29% keluarga yang berkunjung adalah keluarga pasien yang mengalami gangguan dengan diagnosa resiko perilaku kekerasan dan pada minggu ini ada sekitar 16, 6 % keluarga yang berkunjung ke ruangan Krisna (P10) dari 12 pasien yang mengalami gangguan dengan diagnosa resiko perilaku kekerasan. Berdasarkan uraian di atas maka kelompok tertarik memberikan pendidikan kesehatan tentang cara merawat pasien dengan perilaku kekerasan pada keluarga yang mengunjungi pasien dengan gangguan resiko perilaku kekerasan.
D. SELEKSI PASIEN DAN KELUARGA
Peserta pendidikan kesehatan adalah keluarga yang mengunjungi pasien dengan gangguan resiko perilaku kekerasan di ruang Krisna (P10) Prof. dr Soerojo Magelang
E. JADWAL KEGIATAN
Tempat pelaksanaan penyuluhan : Ruang Krisna (P10) Prof. dr Soerojo Magelang
Lama Pelaksanaan penyuluhan : 30 Menit
Tanggal Pelaksanaan penyuluhan : 12 Mei 2014
Waktu Pelaksanaan penyuluhan : 09.00.– 09.30 WIB
F. METODE PELAKSANAAN
1. Ceramah
2. Tanda Jawab
G. MEDIA DAN ALAT
1. Leaflet
H. PENGORGANISASIAN
1. Penyuluhan : I Wayan Swintha
Tugas :
1. Memimpin acara
2. Memberikan Penkes
3. Melakukan evaluasi kegiatan
4. Menyimpulkan kegiatan
2. Fasilitator : Desak Made Sumardiningsih
Tugas :
1. Menyiapkan tempat penyluhan
2. Mengarahkan keluarga
3. Observer : Maria Martina Dolorosa
Tugas :
1. Mengamati jalannya acara
2. Melaporkan hasil pengamatannya pada Leader
I. SETTING TEMPAT
Di Ruang Krisna (P10) Prof. dr Soerojo Magelang
: Penyuluhan
: co leader
: observer
: fasilitator
: pasien
J. PROGRAM ANTISIPASI KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN
1. Waktu : Apabila waktu dimulainya pendidikan kesehatan mundur maka TIM pemberi penkes minta maaf dan menjelaskan penyebab kemunduran waktu.
2. Tempat : Apabila tempat pendidikan kesehatan tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan maka TIM pemberi penkes mencari tempat lain yang akan digunakan .
3. Keluarga dan pasien terapis: Saat pasien dan keluarga dipanggil untuk diperiksa pendidikan kesehatan tetap dilanjutkan
4. Media/alat : Apabila media yang disiapkan untuk penkes seperti leaflet tidak mencukupi untuk semua peserta pendidikan kesehatan maka TIM pemberi penkes meminta maaf kepada peserta yang tidak mendapatkan leaflet
K. LANGKAH KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN
1. Tahap Persiapan
a) Menyiapkan Satuan Acara Penyuluhan sesuai topik
b) Mengumpulkan materi sesuai topik
c) Mempersiapkan tempat untuk kegiatan
d) Mempersiapkan bahan dan alat.
e) Membuat kontrak dengan pasien yang sesuai indikasi.
f) Menyiapkan setting tempat penyuluhan
g) Penyaji menyiapkan diri
2. Tahap Orientasi
a) Salam teraupetik
1) Perawat memberikan salam kepada keluarga dan pasien
2) Perawat meminta pasien memperkenalkan diri, menyebutkan nama, menjelaskan tujuan.
b) Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan keluarga dan pasien saat ini
2) Menanyakan apakah keluarga sudah mengetahui cara-cara merawat pasien dengan perilaku kekerasan.
c) Menjelaskan aturan Penkes
1) Konsentrasi
2) Aktif
3) Bila akan mengemukan perasaannya keluarga dan pasien diminta untuk minta ijin pada perawat
d) Kontrak Waktu
1) Waktu kegiatan selama 30 menit
2) Lama kegiatan
3) Tempat kegiatan
3. Tahap kerja
a) Keluarga dan pasien yang akan mengikuti kegiatan Penkes dikumpulkan Di Ruang Krisna (P10) Prof. dr Soerojo Magelang
b) Penyuluhan menjelaskan Penkes merawat pasien dengan resiko perilaku kekerasan
c) Waktunya atau Lama Pendidikan Kesehatan dilaksanakan selama 30 menit terdiri dari tiga sesi, yaitu penyampaian materi, tanya jawab dan evaluasi.
d) Penyuluhan memulai penkes
e) Leader menanyakan kepada keluarga tentang pengertian, tanda-gejala, perawatan pasien dengan resiko perilaku kekkerasan. Beri pujian pada pasien dan keluarga yang mampu menjawab dengan tepat
f) Perawat memberikan pujian saat keluarga telah menyebutkan dengan benar
g) Fasilitator mengarahkan keluarga apabila dianggap belum mengerti tentang perawatan pasien dengan resiko prilaku kekerasan
h) Selama kegiatan observer mengamati jalanya acara
4. Terminasi
1) Evaluasi
a) Evaluasi subyektif
Menanyakan perasaan keluarga dan pasien setelah mengikuti penkes perawatan pasien dengan resiko perilaku kekerasan dan memberikan pujian pada pasien dan keluarga atas keberhasilan
b) Evaluasi obyektif
Menanyakan kembali hal-hal dan kegiatan yang sudah dilakukan dalam penkes mengenai perawatan pasien dengan resiko perilaku kekerasan dan memberikan pujian pada pasien dan keluarga atas keberhasilan dalam penkes
2) Rencana Tindak Lanjut
Perawat meminta pasien dan keluarga menjelaskan kembali cara merawat pasien dengan resiko perilakun kekerasan
Kontrak yang akan datang
a) Menyepakati topik yang akan datang
b) Menyepakati mengenai waktu dan tempat
c) Menganjurkan pasien untuk rutin dalam kontrol kesehetan serta mematuhi waktu minum obat. Kepada keluarga pasien, penyuluh memotivasi untuk mendampingi pasien saat terdapat tanda-tanda resiko perilaku kekerasan
L. Evaluasi
Evaluasi struktur
a. Menyiapkan planning
b. Kontrak waktu dengan pasien dan keluarga
c. Menyiapkan alat dan tempat
Evaluasi proses
a. Penyuluhan menjelaskan aturan penkes dengan jelas
b. Fasilitator menempatkan diri ditengan-tengah pasien
c. observer menempatkan diri di tempat yang memungkinkan unruk dapat mengawasi jalannya penkes
d. Pasien yang mengikuti penkes dapat mengikuti kegiatan dari akhir sampai selesai.
Evaluasi hasil
a. 100% dari jumlah pasien mengikuti kegiatan penkes
b. 100% dari jumlah pasien mampu menebak dan memberikan penjelasan terhadap merawat pasien dengan resiko perilaku kekerasan yang diberikan
c. 100% dari jumlah pasien mampu mengikuti penkes yang telah ditentukan
d. 100% dari jumlah pasien mau mengemukakan pendapat tentang perawatan pasien dengan perilaku kekerasan
DAFTAR PUSTAKA
Anthony R. (2008).Management Control System, Edisi 11. Jakarta: Salemba Medika
Freidman, M. M. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.
Hawari, D. (2011). Menejemen Stres Cemas Dan Depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indinesia.
Keliat, B.A. (2008). Asuhan Pasien Gangguan Perilaku Kekerasan.Jakarta : FKUI
Maramis, W.F.(2008). Proses keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Purba, dkk. (2008). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Masalah Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan: USU Press
Soewadi. (2008). Simtomatologi dalam Psikiatri. Yogyakarta : UGM Press.
LAMPIRAN MATERI
MERAWAT PASIEN DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN
A. Definisi
Menurut Kaliat (2008), berpendapat perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol.
Suatu keadaan ketika individu mengalami perilaku yang secara fisik dapat membahayakan bagi diri sendiri ataupun orang lain (Videbeck. 2008)
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik dan psikologis baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan (Stuart.2005)
Jadi dapat di simpulkan bahwa perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana dimana seseorang dapat membahayakan secara fisik dan psikologis baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan, yang sering disebut gaduh atau amuk dimana seseorang berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol.
B. Jenis –Jenis
1. Asertif
Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain, dan tidak menimbulkan masalah
2. Frustasi
Kegagaan mencapai tujaun karena tidak realitas atau terhambat dan individu tidak menemukan alternative lain
3. Pasif
Respon anjut dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan
4. Agresif
Perilaku destruktif tetapi masih terkontrol
5. Kekerasan
Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan control diri individu merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan atau dapat juga disebut perilaku destruktif tidak terkontrol
C. Tanda dan Gejala
1. Fisik : mata melotot/pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku.
2. Verbal : mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan nada keras, kasar dan ketus.
3. Perilaku : menyerang orang lain, melukai diri sendiri/orang lain, merusak lingkungan, amuk/agresif.
4. Emosi : tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam, jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.
5. Intelektual : mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme.
6. Spiritual : merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak bermoral dan kreativitas terhambat.
7. Sosial : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan sindirin.
8. Perhatian : bolos, melarikan diri dan melakukan penyimpangan seksual.
Data Obyektif:
1. Muka merah
2. Pandangan tajam
3. Otot tegang
4. Nada suara tinggi
5. Berdebat
6. Sering pula tampak pasien memaksakan kehendak
7. Merampas makanan, memukul jika tidak senang
Data Subyektif:
1. Mengeluh perasaan terancam
2. Mengungkapkan perasaan tidak berguna
3. Mengungkapkan perasaan jengkel
4. Mengungkapkan adanya keluhan fisik, berdebar-debar, merasa tercekik, dada sesak, bingung.
D. Penatalaksanan
1. Somatoterapi
a. Medikasi psikotropik
1) Obat anti psikosis, phenotizin (CPZ/HLP)
2) Obat anti depresi, amitriptyline
3) Obat anti ansietas, diazepam, bromozepam, clobozam
4) Obat anti insomnia, phneobarbital
b. Terapi Elektrokonvulsi (ECT)
Terapi ini dilakukan dengan cara mengalirkan listrik sinusoid ke tubuh penderita menerima aliran listrik yang terputus-putus.
c. Somatoterapi yang lain
1) Terapi konvulsi kardiasol, dengan menyuntikkan larutan kardiazol 10% sehingga timbul konvulsi
2) Terapi koma insulin, dengan menyuntikkan insulin sehingga pasien menjadi koma, kemusian dibiarkan 1-2 jam, kemudian dibangunkan dengan suntikan gluk
2. Psikoterapi
Psikoterapi adalah salah satu pengobatan atau penyembuhan terhadap suatu gangguan atau penyakit, yang pada umumnya dilakukan melalui wawancara terapi atau melalui metode-metode tertentu misalnya : relaksasi, bermain dan sebagainya.
3. Manipulasi lingkungan
Manipulasi lingkungan adalah upaya untuk mempengaruhi lingkungan pasien, sehingga bisa membantu dalam proses penyembuhannya.
E. Perawatan Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan
1. Berikan dukungan saat pasien menghadapi masalah
2. Bantu pasien mengungkapkan perasaan nya
3. Awasi perubahan perilaku pasien
4. Ajarkan teknik relaksasi, misalnya tarik napas dalam jika rasa marah muncul
5. Mengalihkan lingkungan ke tempat yang lebih kondusif
6. Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung. Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.
7. Membantu dengan obat-obat sesuai anjuran dokter
F. Strategi yang dapat dilakukan keluarga untuk mencegah kekembuhan
1. Mengenali tanda kambuh
2. Menjalani pengobatan yang sesuai
3. Menghindari situasi yang mungkin memicu timbulnya gejala perilaku kekerasan, seperti flem atau tayangan televisi, atau suasana gaduh di rumah
4. Mempelajari tentang keadaan sakit yang diderita oleh anggota keluarga
5. Melaksanakan latihan teknik managemen stres seperti meditasi dan tarik napas dalam
6. Melaksanakan aktivitas secara teratur
No comments:
Post a Comment